HUBUNGAN AKTIFITAS FISIK PETANI KARET DENGAN RESIKO OSTEOARTHIRIS DI DESA AEK BONBAN KECAMATAN AEK NABARA BARUMUN
Keywords:
Hubungan Aktivitas Fisik, Petani Karet, Resiko OsteoatritisAbstract
Latar Belakang: Oosteoarthritis adalah Penyakit sendi yang paling umum,terjadi, biasanya menyerang sendi pinggul, lutut, tangan, dan kaki. Secara umum, gejala yang berkaitan mulai muncul sekitar usia 45 tahun, sementara kesulitan mulai muncul sekitar usia 60 tahun. Mayoritas penduduk Indonesia adalah petani, termasuk petani karet, padi, dan kelapa sawit. Sebagai akibat dari posisi kerja mereka yang kurang baik, para petani ini lebih mungkin terkena penyakit Osteoartritis dan juga sering menyebabkan nyeri kaki, ketidaknyamanan lutut, kecacatan fisik, mobilitas terbatas, dan berkurangnya kapasitas untuk bekerja. Khususnya jika dilakukan di medan yang tidak rata, menekuk lutut dalam waktu lama akan membebani sendi lutut, membuat sendi menjadi aus, dan bahkan dapat mengakibatkan ketidak nyamanan pada lutut. Tujuan: Untuk mengurangi prevalensi penyakit osteoartritis pada masyarakat Desa Ack Bonban sebagai akibat dari aktivitas yang kurang tepat, serta mendemonstrasikan perilaku yang benar seperti berdiri dan tidak berjongkok dan menjaga berat badan. Metode: Metodologi penelitian yang digunakan adalah observasional. Sebuah metode yang dikenal sebagai desain cross sectional digunakan untuk penelitian ini. Sebanyak 50 peserta menjadi populasi penelitian ini. Mengenai sampel yang diperoleh dari total sampling, atau seluruh populasi. SPSS digunakan untuk pemrosesan dan analisis data. Hasil: Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai P untuk uji chi square untuk produsen karet yang berisiko terkena 33 osteoartritis adalah 0,000, yang mengindikasikan bahwa hipotesis diterima jika nilai p kurang dari 0,05. Kesimpulan: Resiko osteoartritis terbukti berhubungan dengan aktivitas fisik para produsen karet di desa Aek Bonban dan Aek Nabara Kecamatan Barumun.